Mencintaimu, Tanpa Alasan

Aku adalah gadis kecil yang hadir di tengah kebahagiaan kedua orang tuaku. Ya, mereka Ayah dan Ibuku. Bahagia mereka merupakan hal yang tak ternilai bagi hidupku. Tak luput dari setiap doa-doanya yang selalu dipanjatkan untukku setiap waktu. Aku, mungkin hanya satu dari jutaan anak di luar sana yang ingin mengucap Terimakasih kepada kedua orang tua.

Ibu.. Perihal rasa, aku yakin dari ibu lah sumbernya. Ibu yang dulu menimangku dengan penuh cinta, memberiku asi dengan tanpa imbal biaya, menjagaku dengan segenap kemampuannya, Terimakasih.. Aku tidak akan tumbuh menjadi gadis yang sabar tanpa ada jiwa sabar yang kau ajarkan dahulu. Aku tidak akan mungkin mampu ikhlas mencintai sesama jika tidak kau warisi hal itu. Aku hanyalah gadis kecil yang ingin melihatmu tersenyum bangga, karena apa yang kau ajarkan dulu saat ini sangat berguna. Ibu, Terimakasih..

Ayah.. Menjadikanku pribadi tangguh tak lain atas kerja kerasmu yang bercucuran peluh. Kau berjuang dari petang hingga kembali petang, hanya ingin aku dapat menikmati indahnya kehidupan. Kau rela lelah dengan segala usaha, hanya ingin aku dapat menjadi setara dengan gadis lainnya. Ayah yang mengajariku mengenal A Ba Ta Tsa, Ayah yang mengajariku naik sepeda, pula Ayah yang mewarisi sifat untuk kuat bagaimanapun kondisinya. Terimakasih.. Karena semua hal itulah yang hingga saat ini selalu aku rasa. Pekat cintamu bahkan masih sangat tertanam dalam batinku. Aku hanyalah gadis kecilmu, yang selalu ingin melihat Ayah tersenyum bangga, dengan segala prestasi yang ku punya. Ayah, Terimakasih..

Tuhan..

Jika detik ini adalah saatmu menunjukkan ketetapan, satu pintaku. Izinkan aku tetap tinggal di hati Ayah dan Ibuku untuk dapat menyelami lautan cinta dari mereka. Berikanlah surgamu untuk keikhlasan hati serta ketulusan cinta dari keduanya. Karena tak ada yang lebih bahagia, daripada menatap indah wajahnya kelak bersamaMU di surga..

Ganndhini, June.

Iklan

Rekanitaku, Sahabatku

Fajar mulai menampakkan cerahnya. Menambah kehangatan dan menumbuhkan spirit baru dalam jiwa.

Pagi ini, ku sambut hariku dengan penuh senyuman. Bersama sahabatku menuju tempat indah penuh idaman. Dengan keyakinan dalam hati aku percaya Allah akan memberikan kemudahan dari setiap hal baik yang dilakukan. Hari ini, untuk Ikatanku.

Tiba di depan pintu masuk, langkahku terhenti. Memandangi bangunan yang berdiri megah menawan hati. Betapa bangganya seluruh penghuni istana ini. Andaikan, Allah memberikan kesempatan bagiku untuk dapat tinggal di tempat ini, tak akan aku sia-siakan kesempatan itu. Hidup bersama para Ulama merupakan hal yang sangat istimewa bagiku.

Banyak lelaki berbaju hijau dan berseragam loreng berjajar di depan pintu masuk. Begitu gagahnya mereka. Ikhlas bakti berjuang untuk agamanya. Mereka nomor satukan segala urusan bersama, daripada ego mereka sendiri. Bukan hal yang mudah ketika mereka dihadapkan pada posisi yang sulit, antara memilih urusan pribadinya ataukah melaksanakan tugasnya. Ya, itulah realita yang kerap kita abaikan.

Aku melangkah menuju aula tempat acara dimulai. Banyak santri putra telah bersiap di tempat tugasnya. Mereka nampak antusias mengikuti acara ini. Inilah salah satu bentuk khidmah mereka kepada pesantren yang sangat mereka cintai. Indahnya suasana seperti ini, terpatri abadi dalam hati.

Tugasku pagi ini adalah menjadi pemandu suara pada acara pembukaan. Sudah aku siapkan sejak semalam, dan aku yakin hari ini pasti maksimal. Benar sekali, tugas ini dapat aku laksanakan dengan baik. Tak lupa juga atas dukungan beberapa pihak, yang sangat memotivasiku hingga semuanya berjalan dengan lancar.

Hatiku terhentak, pada sosok lelaki yang berdiri di sebelah tiang aula. Wajahnya sendu dan indah dipandang. Nampaknya beliau juga tidak asing lagi denganku, yang sudah dua semester ini diajar beliau. Ya, beliau adalah dosenku di kampus hijau ini. Yang juga sebagai Pengurus Cabang di Ponorogo. Bangga betul bangga ketika dimanapun tempatnya kita masih dipertemukan dengan orang-orang hebat yang sama-sama berjuang di tempat dan wadah yang sama pula. Itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, pejuang muda di organisasi ini.

Banyak para Ulama dan Kyai yang turut serta hadir dalam acara ini. Salah satunya yaitu pengasuh Pondok Pesantren, yang dengan ramah wajahnya ketika menyapa para hadirin. Salah satu penuturannya yang sangat membekas di hatiku adalah, “Sudah sering Pesantren kami dijadikan tempat untuk acara semacam ini, termasuk 5 tahun yang lalu. Ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, karena seiring berjalannya waktu pesantren kami dapat berkhidmah pada para kyai, khususnya Hadrotush Syaikh Kh. Hasyim Asy’ari”.

Ya, itulah salah satu pembangkit semangat dan perjuangan kami khususnya. Banyak sekali cerita indah yang aku dengar dari beberapa rekanita dan juga rekan yang ada. Sangat berharga, pertemuan hari ini yang tak kusangka dapat menyatukan beberapa hati yang telah terpisah jauh. Rekanita, tidak hanya menjadi seorang teman berjuang, tetapi juga sahabat yang akan selalu terkenang. Melalui kegiatan ini, bisa aku dapatkan cinta yang tak kutemui di tempat lain.

Rekanitaku, sahabatku..

Gandhini, On April.

Terimakasih..

Kali ini, bukan perihal siapa pun kamu dan juga darimana asalmu. Aku mengenalmu dengan cara dan waktu yang Tuhan tentukan. Bukan hal yang mudah untuk dapat menyatukan pemikiran kita. Tetapi karena keikhlasan dan ketulusan, semua yang nampak berat di depan kita ternyata bisa kita lalui.

Aku tahu, pertemuan memang telah Tuhan gariskan untuk setiap insan. Bertemu denganmu salah satunya. Tidak ada yang serba kebetulan. Karena aku yakin, setelah pertemuan ini Tuhan telah menyiapkan hal yang luar biasa dahsyatnya. Kita akan dihadapkan pada posisi yang sama. Ya, seperti yang nampak pada saat ini.

Terimakasih.. Karena melalui pertemuan ini, tak kudapati titik menjemukan atau melelahkan. Bahkan semakin lama bertahan adalah pilihan terbaik. Terimakasih masih tetap disini, untuk terus bersama dalam mencapai tujuan yang diimpikan..

Gandhini, On April.

HAHA-HIHI

Suara radio kuputar
Terdesak suara tak beraturan
Kutata rapi semua rencana
Namun gurauan semakin merajalela.

Saat dimana mulai bangkit dari sendu lagi sembilu
Yang mereka tahu hanya haha-hihi melulu
Saat dimana percaya tak ada kelabu angan
Yang mereka percaya haha-hihi hatiku senang
Saat dimana peluh bercucuran deras
Mereka hanya tertawa lepas
Saat dimana tungkai kaki kepayahan melangkah
Mereka sibuk berbincang tak tentu arah.

Ku terus telusuri jalan panjang
Hingga tak tahu dimana ujungnya
Kaki lebih kuat melangkah
Mata lebih lama melihat.

Tahun-tahun telah usang
Mencari mereka tuk sekedar haha-hihi bersama
Semacam dulu yang kerap terlihat
Namun aku yang tak pernah sempat.

Sejak kapan bising mulai terhenti?
Iyakah mereka tersadar sendiri?
Kotak waktu terkikis habis
Akibat haha-hihi yang berakhir tragis..

Ahsana, on April.

Luruh Rapuhnya Sang Mawar #3

Termenung redup dalam malam
Tak tahu seberapa lama diam
Diruang gelap hati yang lelah
Menjamah jiwa yang tengah resah
Kini banyak belajar dari sunyi
Bagaimana menyimpan sendiri segala hal yang tak orang mengerti

Tuan,
Kau boleh melihatkuu bak sekelopak indah mewangi
Yang pesonanya rekah tak berilusi
Menerka aku penuh teka-teki
Mencoba menyentuh lantas tertusuk duri

Namun, memang ini salah satu cara
Agar ketika sepucuk mawar kecewa
Tak menyalahkan kumbang manapun,
Yang pernah singgah bermuara…

Ahsana #3, on April.

Luruh Rapuhnya Sang Mawar #1

Langit hitam nampak bertahta sasmita
Lampu kota bersaut dengan gemerlapnya
Pancar sukma selaras kearifannya
Sisa senja nampak menunda luka

Dimensi ruang dan waktu bersabda
Sang Khalik dengan kuasa mencipta
Makhluk melengkap rupa nan rasa
Jatuhku menjejak pada pesona
Pesona yang kau sugih begitu sederhana
Tanpa tau kemana hati bermuara..
Kau yang tak mungkin dalam radius dekat
Masih saja relung hati harap terikat
Hingga kini kusimpan asa itu
Walau mungkin terlihat muluk..

Tuan, jika ilustrasi mawar belum mampu kau telaah
Bisik keheningan kan kusingkap
Dan kujelaskan tanpa gerutuan
Maaf, aku bukanlah secercah kelembutan
Bukan insan yang penuh perbaikan
Juga bukan insan yang selalu patuh perintah Muan..
Maaf pula jika tangkaiku melukaimu
Tapi ini sikap perlindungan dariku
Bukan maksudku kau makhluk yang berusaha menyakitiku
Namun, kau bak laksana merekah yang buatku merapuh dan luruh…

Luruh Rapuhnya Sang Mawar

Pada titik yang begitu melelahkan
Tanpa tahu menahu kesungguhan
Lipatan luka akibat tikaman
Tergasak gempuran sesak tak tertuntaskan ..

Mawar yang ingin berdiri satu tangkai
Tanpa ada tangkai lain yang mengiringi
Namun, kau kebumikan harapan
Kau langitkan kekecewaan
Sorot mata lain yang kau lihat
Seraksa pesona lain yang kau ikat..

Kini aku belajar lebih keras
Bekerja lebih puas
Hingga tak ada seorangpun,
Yang membiarkanku lepas..

Laut itu luas lagi dalam
Terimakasih memandangku sebatas permukaan
Semoga telinga tak lagi menuli
Semoga lekas terbuka hati
Bahwa laut bisa membuatmu hanyut dan tenggelam
Oleh arus yang tak nampak dipermukaan..